Sang Waktu

Waktu adalah sesuatu yang terus bergerak yang  hingga kini belum mampu dihentikan oleh hasil kecerdasan manusia. Waktu akan terus berjalan dalam alurnya dan tak akan berhenti oleh apa pun. Bahkan jika seandainya pralaya (kiamat) terjadi, waktu tetap terus berjalan.

Hingga kini kisah kembali ke masa lalu hanya ada di film-film atau cerita-cerita, belum pernah ada yang betul-betul bisa kembali ke masa lalu untuk melakukan pilihan ulang dalam hidupnya. Kalau saja manusia mampu pergi ke masa lalu dan melakukan pilihan ulang, bisa jadi kehidupan justru akan lebih kacau. Si A akan memilih kembali pada mantannya, Si B. Sedangkan Si B sendiri memilih Si C. Padahal Si C lebih suka pada Si D. Nah, kacau bukan? Past Life Regression hanyalah sebuah teknik untuk membawa ingatan kita ke masa lalu, bukan membawa fisik kita untuk membuat pilihan baru. PLR hanya mengingat masa lalu tanpa kemampuan mengubah masa lalu itu. yang telah terjadi tak mungkin diubah.

Waktu begitu cepat berlalu. Rasanya baru kemarin kita melihat hamparan sawah di depan rumah, tetapi kini sawah-sawah di tepi jalan sudah menjadi deretan gedung perkantoran. Baru kemarin rasanya kita menggendong anak kita, sekarang mereka sudah bujang dan gadis. Tak terasa usia begitu cepat bertambah dan kita sudah tak muda lagi. Rambut memutih, mata tak awas lagi dan harus memakai kaca mata.

Apa yang bisa kita lakukan terhadap Sang Waktu? Hanya satu jawaban: memanfaatkannya sebaik mungkin untuk segala kebaikan. Rsi Canakya mengajarkan dalam Canakya Niti Sastra 2, 13: slokena va tadardhena tadarddharddhaksarena va, avandhyam divasam kuryad danadhyayana-karmabhih (Isilah waktu setiap hari dengan menghafalkan satu shloka, atau setengah shloka, atau seperempat shloka atau pun satu huruf dari shloka tersebut. Atau isilah hari-hari Anda dengan bersedekah, belajar kitab-kitab suci dan kegiatan bermanfaat lainnya. Dengan demikian hari-hari Anda akan menjadi berarti).

Jangan menunggu hari esok untuk berbuat kebaikan. Jangan menunggu masa pensiun untuk membaca kitab suci. Karena kita tak pernah tahu sampai kapan waktu berpihak pada kita. Ketika usia semakin bertambah kemampuan kita justru semakin berkurang. Hidup kita memang seperti grafik distribusi normal. Pada awalnya bertambahnya usia seiring dengan meningkatnya kemampuan, tetapi setelah suatu titik tertentu maka bertambahnya usia diiringi kemampuan yang menurun.

Apa yang bisa kita lakukan ketika badan tak lagi sehat dan pikiran tak lagi mampu mengingat alias pikun? Kita hanya bisa duduk “menikmati” masa tua. Jangankan menghafal shloka, mengingat nama cucu pun sudah sulit. Jika melangkah saja sulit apa mungkin membantu orang lain? Oleh karena itu, manfaatkan masa kini, ketika usia masih muda, untuk berbuat segala kebaikan. seperti pesan Rsi Canakya di atas.

Sementara itu, Bhagawan Wararuci berpesan melalui karyanya, Sarasamuccaya 27: yuvaiva dharmmamanviccedyuva vittam yuva srutam, tiryyagbhavati vai dharbha utpatan na ca viddyati (gunakanlah usia muda untuk mencari harta, pengetahuan, dan mempelajari ajaran Dharma, sebab tidak sama kekuatan usia tua dengan usia muda, bagaikan ilalang yang tajam saat muda, tetapi tumpul dan rebah ketika tua). Masa muda memang saat yang tepat untuk mulai mencari nafkah. Beberapa perusahaan membatasi usia pelamar untuk jabatan-jabatan tertentu dengan mempertimbangkan produktifitas. Melamar menjadi PNS, anggota TNI atau POLRI juga dibatasi. Juga saat yang tepat untuk mempelajari ajaran Dharma. Jangan ada alasan sibuk ini itu. Apa betul sesibuk itu? Kenyataannya kita masih punya banyak waktu untuk nongkrong, ngobrol, jalan-jalan yang mungkin tak penting. Inilah pesan Rsi Canakya: sukharthi cetyajed-vidyam vidyarthi cetyajet-sukham, sukharthinah kuto vidya kuto vidyarthinah sukham (Kalau menginginkan kesenangan buanglah jauh-jauh ilmu pengetahuan. Kalau menginginkan ilmu pengetahuan tinggalkan kesenangan. Oleh karena bagi orang yang menginginkan kesenangan indria mana mungkin ada ilmu pengetahuan, dan sebaliknya bagi yang mengharapkan ilmu pengetahuan mana mungkin ada kesenangan).

Betapa orang-orang bijak telah memahami betul makna sang waktu yang tak pernah mau menunggu dan bagaimana kita harus memanfaatkannya. “Bangunlah sebelum ayam berkokok kalau tak mau rejekimu dipatok ayam!” Demikian salah satu pesan orang tua kita agar kita sigap bangun pagi untuk mencari nafkah. Bukan bermalas-malasan.

Shloka 364 Sarasamuccaya patut kita renungkan juga, shvahkaryamadya kurvita purvahne caparahnikam, na hi pratiksate mrtyuh krtam vapyakrta mtatha (jangan santai, yang akan dikerjakan besok, kerjakanlah hari ini. Yang akan dikerjakan sore, kerjakanlah pagi hari. Kematian tak akan menunggu apakah pekerjaanmu sudah selesai atau belum). Ini adalah pesan agar kita tidak menyia-nyiakan waktu dengan menunda-nunda pekerjaan.

Dalam Bhagavad gita adhyaya 10 shloka 30, Shri Krshna bersabda: prahladash casmi daityanam kalah kalayatam aham, mrganam ca mrgendro’ham vainateyash ca pakshinam (Aku adalah Prahlada di antara para raksasa Daitya, di antara para penghitung, Aku adalah Sang Waktu. Di antara para binatang, Aku adalah singa, dan di antara para burung Aku adalah Garuda). Beliau menyatakan pada Arjuna bahwa diri-Nya adalah Sang Waktu yang Maha Penghitung. Beliau menghitung dari satuan terkecil hingga terbesar dan sejak alam semesta ini tercipta entah sudah berapa hitungan yang Beliau buat.

Sang Penghitung, alias Sang Waktu, juga tak pernah salah dalam menghitung. Ia menghitung dengan tepat kapan manusia harus lahir dan mati. Kapan sehelai daun gugur dari rantingnya. Kapan matahari terbit dan terbenam. Sebagai Sang Waktu, tak satupun yang mampu menahan atau membatalkan perhitungan-Nya.

Oleh karenanya, mari kita manfaatkan waktu yang masih tersedia ini untuk melakukan yang bermanfaat, baik bagi diri sendiri maupun bagi makhluk lain. Jangan rusak hidup singkat kita dengan hal-hal yang tampaknya menyenangkan, tetapi sesungguhnya merusak badan dan jiwa. Jangan sia-siakan kesempatan untuk melakukan pelayan bagi sesama. Saat orang tua masih ada, hormatilah mereka, layani mereka dengan layak. Jangan sampai menyesal dan baru menyadari kesalahan ketika mereka telah tiada. Betapapun kayanya kita, tak akan mampu membeli masa lalu. Manfaatkan masa kini yang hadir dengan sendirinya di hadapan kita dengan baik sebelum ia menjadi masa lalu yang telah pergi menjauh dan tak mungkin kita raih lagi.

Sarve sukhinah bhavantu.

 

RELASI-RELASI KEKUASAAN DALAM TIGA DONGENG ASAL BALI, Oleh I Nyoman Wijaya©

 Maaf, sudah lupa sumber tautannya. Sudah dicoba cari lagi tetapi tidak ketemu. Sebuah tulisan dari seorang dosen Fakultas Sastra Universitas Udayana.

Catatan: Bila pemilik tulisan tidak berkenan karyanya dimuat di Blog ini, mohon berkenan menghubungi saya, saya akan segera menghapus unggahan ini.


Abstrak

Studi ini bertujuan untuk membuktikan tidaklah selalu benar pendapat yang menyatakan penyebarluasan ajaran Saiva Siddanta di Bali berlangsung secara damai. Penggunaan metode genealogi Michel Foucault memberikan alat yang menunjukkan bahwa fakta sejarah tidak pernah netral. Di dalamnya terdapat nilai-nilai tersembunyi yang memberikan keuntungan tertentu bagi penuturnya. Oleh karena itu, studi ini mencoba meninjau ulang pendapat itu dengan cara menganalisis tiga dongeng yang dinilai mengandung perlawanan terhadap kelompok Saiva Siddanta di Bali. Di dalam ketiga dongeng itu memang benar ditemukan relasi-relasi kekuasaan berupa kritik atau sindiran terhadap kelompok Saiva Siddanta.

.....

...Michel Foucault (Richard J. Evans, 1997: 8), fakta sejarah tidak pernah netral. Dia selalu terikat pada nilai-nilai tersembunyi yang memberikan keuntungan tertentu bagi penuturnya. Oleh karena itu, Foucault mengatakan sejarah harus dicurigai karena penuh dengan hal-hal “menyesatkan,” sebab sejarah merupakan sebuah konstruksi sosial yang melibatkan kekerasan politik, kerakusan kuasa, dan kolaborasi antara kekuasaan dengan pengetahuan....



Sang Waktu

Waktu adalah sesuatu yang terus bergerak yang   hingga kini belum mampu dihentikan oleh hasil kecerdasan manusia. Waktu akan terus berjalan ...